Memahami Bencana dalam Perspektif Fikih Kebencanaan
(At Ta’awun : QS Al Maidah ayat : 2)
Oleh : Moh. Wafir, S.Pd, M.Pd
(Ketua LPB PDM Kab. Sragen)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Indonesia berulangkali dilandah musibah/bencana, tercatat dalam kurun waktu setahun terakhir ini, sejak 8 Juni 2019 Kota Samarinda dilanda banjir akibat curah hujan yang tinggi. Bencana alam akibat banjir juga melanda beberapa wilayah lain di bumi pertiwi, Indonesia, seperti di Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat dan beberapa wilayah lainnya termasuk gempa bumi di Lombok pada tahun sebelumnya. Ketika wilayah lain Indonesia diterjang banjir akibat curah hujan yang tinggi, di sebagian wilayah yang lain, sawah tadah hujan mengalami kekeringan karena rendahnya curah hujan.
Adanya fenomena demikian, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial kemasyarakatan yang juga termasuk bagian dari Ibu Pertiwi Indonesia harus mengambil sikap dan berperan aktif untuk mencerahkan dan meneduhkan umat dan bangsa ditengah banyaknya bencana yang kian akrab menyapa. Bukan hanya melalui tindakan sigap bencana yang dilakukan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Muhammadiyah juga menggagas panduan praktis menyikapi bencana yang sesuai dengan agama Islam berpersepektif Muhammadiyah.
Yaitu Fikih Kebencanaan yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah, yang merupakan hasil kolaboratif antara fakta realitas kebencanaan yang dalam hal ini MDMC dan teoritis teks keagamaan diwakili oleh MTT.
Maka penting untuk memahami istilah yang merujuk kepada pemaknaan bencana dalam al Qur’an, sehingga memahami bencana bukan hanya sebagai hukuman yang ditimpakan Allah kepada hambanya sebagai sebuah ganjaran atas perilaku menyimpang yang dilakukan oleh hambanya. Melainkan memandang bencana dengan sudut pandang yang lain, sehingga selain mendatangkan kemudhorotan, bencana juga bisa dikaji sebagai sebuah diskursus ilmu.
Dalam konteks teologis Alquran mengajarkan bahwa Allah SWT bersifat Rahman dan Rahim, Allah Maha Kasih dan Sayang (QS Al An’am ayat : 54). Maka itu, konsekuensi dari keyakinan itu adalah apa pun yang diberikan Allah SWT kepada manusia selalu dalam kerangka kebaikan dan penuh dengan kasih sayang. Cara pandang ini pun harus kita pakai dalam memandang bencana yang terjadi bahwa bencana sebagai kehendak Allah SWT merupakan sebuah kebaikan (QS An Nahl:ayat 30) yang menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan manusia.

Bencana yang terjadi bukan merupakan bentuk amarah dan ketidakadilan Allah kepada manusia, melainkan merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (Rahman) Allah kepada manusia, yaitu sebagai media introspeksi bagi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa merugikan manusia itu sendiri.

Kedua, secara sosiologis, kita dapat memahami bencana dari perspektif peran manusia sebagai khalifah (pengelola) alam. Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini mempunyai tugas penting menjaga kelestarian alam, tidak melakukan kerusakan, menjaga harmoni alam, dan menjadikan alam sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konteks kebencanaan, manusia sebagai khalifah ada tiga peran penting, pertama melakukan upaya preventif, yaitu mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana (QS Yusuf : 47–49), melakukan upaya-upaya jika terjadi bencana dapat meminimalkan kerugian dan korban jiwa.

Kesadaran mitigasi dan kesiapsiagaan ini sangat penting, apalagi Indonesia termasuk wilayah yang rawan bencana, baik gempa, gunung api, banjir, dan lain-lain. Sayangnya, usaha mitigasi dan kesiapsiagaan bencana ini belum mendapat porsi utama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Ketiga, jika terjadi bencana bagi masyarakat yang terdampak harus bersikap sabar dan bersyukur, mengembangkan positive thinking and action akan kebaikan dan hikmah di balik peristiwa kebencanaan. Di sisi lain, bagi masyarakat yang tidak terdampak harus melakukan upaya tanggap darurat dengan menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia, mengurangi penderitaan korban, dan meminimalkan kerugian materi (QS Al-maidah: 32).

Bagi organisasi kemanusiaan menolong korban bencana harus memegang tiga prinsip;
1. Inklusif, membantu tidak hanya untuk kelompok tertentu saja, membantu untuk semua kelompok yang terkena dampak bencana entah apa pun suku, ras, agama dan golongannya. Bukankah mustad’afin dalam bahasa agama tertuju tidak memandang agama, suku, etnis, dan kelompok tertentu.

Prinsip inklusif ini penting karena di lapangan kadang ada kecenderungan membantu sesuai dengan kelompoknya saja.
2. Non-charity, artinya bantuan kemanusiaan tidak hanya model “bakti sosial” sekadar membantu apa saja tanpa analisis kebutuhan, setelah itu selesai dan merasa puas. Prinsip bantuan kemanusiaan adalah berbasis pada hak masyarakat terdampak dan memperhatikan keberlanjutan program.

Bantuan kemanusiaan tidak lagi model “hero” yang datang memberi bantuan lalu pergi, hit, take a picture and run.
3. Prinsip bantuan kemanusiaan harus lebih memperhatikan kelompok rentan, seperti perempuan, anak-anak, dan orang tua lanjut usia. Karena kelompok inilah paling gampang jika terjadi bencana mengalami penderitaan.

4. Pascabencana, sebagai khalifah, manusia wajib melakukan upaya rehabilitasi, yaitu perbaikan semua aspek yang rusak akibat terjadinya bencana maupun melakukan rekonstruksi semua sarana dan prasarana yang hancur akibat bencana.
Ada baiknya masyarakat mulai menghentikan wacana mengaitkan terjadinya bencana akibat “kemarahan” dan “murka” Tuhan atas tindakan manusia.

Selain tidak membantu apa pun terhadap korban bencana, juga membuat korban menjadi tidak nyaman. Jalan terbaik setelah membantu korban adalah kita belajar dari kejadian bencana tersebut untuk melakukan upaya antisipasi agar jika terjadi di tempat kita tidak menimbulkan kerugian yang besar.
Sementara bagi Mukmin yang tidak mendapat bencana, maka adanya bencana merupakan ladang amal shaleh. Berkesempatan membantu saudara yang terkena musibah dengan upaya menyisihkan sebagian harta, tenaga dan fikirannya untuk meringankan beban saudaranya. Peluang silaturahim, gotong royong dan persaudaraan sejati terbuka lebar. Saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran mendapatkan momentumnya. Seruan Allah SWT sangat tepat dilaksanakan dalam suasana benacana.

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
Artinya : …Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maidah:2)
Dalam hal ini kebaikan dan ketakwaan adalah dua lafal yang bermakna satu. Pengulangan dua kata itu untuk memperkuat redaksional, karena setiap kebaikan adalah ketakwaan dan setiap ketakwaan adalah kebaikan.
Wal hasil, dengan musibah Allah bermaksud menyadarkan manusia dari kekhilafan dan kesalahannya, kesombongan dan keserakahanya agar manusia kembali ke jalan Allah, bertobat kepada Allah. Dalam wujud menata lingkungan dengan sebaik-baiknya, dengan mempertimbangkan kondisi alam dari berbagai kemungkinan timbulnya bencana (mitigasi). Dan yang tak kalah pentingnya menyadarkan kita bahwa alam ini tidak abadi, harta yang kita miliki hanya titipan Allah dan kita semua akan binasa dan dibangkitkan kembali untuk menghadap ke hadiratNya.
Mari energi yang kita miliki disalurkan untuk membantu sesama dalam penanggulangan bencana, baik saat tanggap darurat maupun recovery yang meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi agar setelah adanya bencana semua bisa bangkit lagi. Baik itu Bencana Alam termasuk juga dengan adanya Bencana Kemanusiaan.
Namun perlu diingat bahwa otoritas tertinggi dalam penanggulangan bencana adalah pemerintah karena pemerintah adalah pelayan masyarakat, sementara perorangan dan NGO termasuk MDMC bergerak dan bekerja sebagai relawan mensuport dan membantu pemerintah.
Wallahu a’lam bi shawab.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here