Opini Oleh

Yoga Purnama, S.Pd

Guru BK SMA Negeri 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen

pdpmsragen.or.id – Sebagai warga negara Bangsa indonesia kita perlu mengetahui asal usul bangsa kita sendiri.  Bangsa Indosesia merupakan bangsa yang bermartabat serta memiliki wilayah yang  luas, kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia juga beragam dan banyak sekali. Kekayaan tersebut berupa kekayaan alam, kekayaan intelektual, kekayaan budaya. Sejumlah teori yang menggambarkan asal nenek moyang bangsa Indonesia yang akan dibahas adalah teori Yunan, Teori Nusantara , Teori out of Africa dan teori out of Taiwan.

  1. Teori Yunan

Teori Yunan menjelaskan kalau  nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari bangsa Yunan Tiongkok. Sejumlah ahli pengusung pada teori ini diantaranya R.H. Geldern, J.H.C.Kern, J.R Foster dan J.R logon. Teori ini memiliki beberapa dasar Alasan utama yaitu.

  1. Pertama, teori dilandaskan pada penemuan berupa kapak tua di wilayah Nusantara yang memiliki kesamaan dengan pada kapak tua yang di wilayah Asia Tengah. Hal ini menunjukkan adanya gambaran proses migrasi bangsa Yunan dari wilayah Asia Tengah menuju ke Kepulauan Indonesia
  2. Kedua, teori dilandaskan pada Asumsi bahwa manusia Indonesia berasal dari Yunan dengan ditemukan kesamaan bahasa yang berkembang di Kepulauan Nusantara dengan bahasa yang ada di Kamboja, yaitu bahasa Melayu Polinesia..
  3. Teori Nusantara

Teori Nusantara menggambarkan bahwa manusia bangsa Indonesia berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, bukan melalui proses migrasi dari daerah lain. Teori Nusantara didukung oleh Mohammad Yamin, J. Crawford, Sutan Takdir Alisyahbana, dan Gorys Keraf. Dasar teori Nusantara ini mencakup beberapa hal.

  1. Teori Nusantara berasumsi bahwa bangsa Melayu merupakan bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi. Pandangan itu didasari oleh hipotesis bahwa bangsa Melayu sudah melalui proses perkembangan budaya sebelumnya. Kesimpulannya bangsa Melayu berasal dan berkembang di Nusantara, bukan dari luar yang berpindah ke wilayah Nusantara.
  2. Teori ini didukung dengan penemuan Homo soloensis dan Homo wajakensis di Pulau Jawa memberi tanda bahwa ada peluang bangsa Melayu keturunan manusia kuno berasal dari Jawa.
  3. Teori out of Afrika

Teori ini menggambarkan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Afrika. teori ini berdasarkan kajian ilmu genetika melalui penelitian DNA mitokondria gen perempuan dan gen laki-laki. Bangsa bermigrasi dari Afrika hingga wilayah Australia. Teori ini juga menyebutkan bahwa manusia Afrika melakukan perpindahan dari Afrika menuju Asia Barat sekitar 50.000-70.000 tahun yang lalu.

  1. Teori Out of Taiwan

Teori Out of Taiwan menyatakan bangsa Indonesia berasal dari Kepulauan Famosa Taiwan. Teori yang didukung oleh pakar Harry Truman Simanjuntak didasari sejumlah argumentasi tidak adanya pola genetika yang sama antara kromosom manusia Indonesia dengan manusia  Tiongkok. Menurut teori ini, bahasa yang digunakan dan berkembang di wilayah Nusantara adalah bahasa yang merupakan rumpun Austronesia.dimana Rumpun Austronesia ini digunakan oleh leluhur bangsa Indonesia yang menetap di Pulau Formosa.

“Mengenal Konseling berbasis pendekatan budaya Asli Indonesia”

Metode layanan bimbingan dan konseling di sekolah menengah maupun kejuruan pada   umumnya   masih   menggunakan   model-model   pendekatan   barat. Pendekatan ini   pada kenyataannya ketika diterapkan oleh guru BK mengalami kendala di berbagai wilayah,

Guru Bimbingan Konseling terbebani dengan metode yang bersifat teoritis dari pada praktis. Guru BK belum banyak mlakukan pendekatan konseling berbasis budaya setempat yang menerapkan kerangka kerja/model konseling berbasis pada budaya Indonesia, sehingga tanpa disadari berdampak pada hasil yang  kurang efektif dan produktif .

Fenomena terkait dengan pemasalahan siswa dan kecakapan sosial siswa sekolah menengah diantaranya:

  1. Layanan BK tidak dapat diterapkan di beberapa wilayah indonesia
  2. Keterbatasan pola komunikasi  terhambat budaya,
  3. Rendahnya sikap menghargai budaya  lain
  4. ketidakmampuan  siswa  menyikapi  suatu  permasalahan

Penjelasan  ini  didukung  oleh  McCluskie  (2010)  yang  menunjukkan  bahwa  di Amerika Serikat, beberapa teori konseling barat secara detail perlu ditelaah dalam implementasinya oleh guru BK sesuai Wilayah daerah masing- masing. Guru BK dalam hal ini harus lebih cermat memilih dan menggunakan model konseling yang sesuai dengan karakteritstik dan pendekatan budaya. Konselor diharapkan tidak sekedar mempelajari dan mempraktikkan teori dan pendekatan yang dikemukakan oleh Barat, namun juga mampu merumuskan gubahan-gubahan aplikatif tersendiri tentang bimbingan dan konseling Indonesia.

Pendekatan Konseling Model KIPAS merupakan salah satu model konseling digunakan sebagai teknik konseling berlandaskan kekhasan budaya nusantara. Pendekatan  konseling  model  KIPAS  (Konseling,  Intensif,  Progresif,   Adaptif, Struktur)  merupakan kerangka kerja konseling berbasis budaya kontemporer bangsa indonesia. Keunikan pendekatan ini melandaskan dengan  tidak memandang siswa/konseli sebagai pribadi yang bermasalah/tidak sehat namun pribadi yang memiliki potensi, berupaya membantu mengkaji dan mengembangkan aset-aset positif dalam diri konseli, dan   berkolaborasi   dengan   pihak-pihak   yang   dapat   mendukung   kemajuan siswa/konseli tersebut

Konseling model KIPAS pada hakikatnya wujud praksis dari Postmodern- Konstruksionis. Postmodern-Konstruksionis adalah perpaduan antara Konstrusksionisme Sosial dan Konstruktivisme Psikologis (Rigazio-DiGiilio, 2001)  yakni suatu kerangka kerja yang  dirancang  dan  disusun  agar  dapat  beradaptasi  dengan  konteks  lingkungan  sosial- budaya (struktur dan pranata) sekolah dan keadaan psikologis siswa

Strategi modifikasi konseling KIPAS yang tersedia dengan: kelola-diri dan rekonstruksi pribadi, immunisasi-diri dan internalisasi nilai-budaya, pemberdayaan (empowering), analisis-diri dan situasi, dan sensitisasi   sosial (sarasehan). Dari beberapa strategi yang sekaligus menjadi teknik dalam penelitian ini difokuskan pada pemberdayaan (empowering) yakni menggunakan permainan-permainan lokal yang telah dimodifikasi dan internalisasi nilai-nilai budaya bangsa indonesia yang tersirat dalam pepatah serta falsafah budaya. Perpaduan antara budaya Sumatera, Kalimantan, dan Madura bersinergi menjadi suatu teknik dalam upaya mengentaskan problematik bidang sosial dan karier siswa. Sehingga tidak menimbulkan konflik didalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here