PDPDMSRAGEN.OR.ID – Akhir bulan mei sejarah selalui hanyut dalam kisah heroik pembebasan Konstantinopel oleh “Sang Elang” Muhammad Alfatih.
Sekiranya sudi kita melompat ke belahan eropa barat di semenanjung iberia dalam perode yang sama dengan kejayaan di Istanbul, terjadi kisah paradoks nan memilukan dialami saudara di Andalusia. Keemiran Granada yang menjadi benteng terakhir islam di Andalusia berhasil ditembus oleh Koalisi Ferdinand dan Isabela.

Kalau Alfatih dengan “kekuatan mistiknya” mengangkat 77 kapal melewati golden horn, Ferdinand pun juga cerdik dengan megisolasi Granada dengan semangat Reconquista melumpuhkan Toledo sebagai pintu bantuan dari afrika utara.

Alfatih bukan diam berpaku tangan namun jarak yg membentang antara Istanbul dan Andalus, setidaknya Ottoman dibawah komando Gedik Ahmed Pasha mampu menembus sampai Otranto Italia sebelum ditarik mundur karena “Sang Elang” berpulang keharibaan.

Secara bertahap terjadi gelombang pengusiran besar2an umat Islam, bumi andalusia yang dibangun peradabannya oleh generasi emas Islam harus ditinggalkan. Keindahan Alhambra, lengkungan klasik Le Mezquita yang menjadi simbol kemajuan Andalusia disaat eropa terbelenggu takhayul hanya menjadi kisah yang sampai saat ini masih kita ratapi ceritanya.

Tak ada tempat bagi yang bertahan dengan keislamannya, mereka hanya diizinkan membawa uang yang mereka bawa, harta dan properti lainnya disita. sementara bagi yang ingin tetap tinggal terpaksa “berkamuflase” menjadi nasrani yang biasa mendapat sebutan Moorisco.

Seperti hanya menunggu waktu, pada akhirnya Moorsico pun juga mengalami hal yang sama, pengusiran yang sebenarnya membawa dampak buruk bagi Kerajaan Valencia dan Kerajaan Aragon spanyol karena dengan diusirnya ahli2 merusak ekonomi mereka untuk beberapa generasi.

Semoga berkesempatan napak tilas ke Andalusia, besok.

———————-
Fauzi Ichwani
Kabid Seni Budaya & Olahraga
Pemuda Muhammadiyah Kab. Sragen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here