Ki Bagus Hadikusumo, Bung Karno dan Bung Hatta di Jepang 1943

Tujuh Kata dan Ki Bagus

7 Kata dan Ki Bagus Hadikusumo

77 Tahun sudah bangsa ini melangkah menikmati kemerdekaan. Sebuah Nation yang kaya akan sumber daya alam, ragam suku, jenis budaya, warna bahasa, dan juga agama. Sungguh mustahil jiwa dan hati ini bisa terikat dalam satu wadah negara kalau bukan karena “Atas berkat Rahmat Allah”.

Melompat ke belakang pada 18 Agustus 1945, ujian bagi negara yang baru berusia sehari telah menghadang. Terjadi ketegangan jelang pengesahan dalam rapat PPKI yang mendadak mengusulkan pencoretan 7 kata dalam draft Piagam Jakarta yg seharusnya tinggal disahkan sebagai dasar negara. “Ketuhanan, Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”, bait kalimat yang pada awalnya sudah disepakati bersama.

Ki Bagus Hadikusumo yang juga turut serta berpeluh memeras otak keringat dalam kepanitiaan pun berang, kenapa tidak dibahas kemarin di dalam sidang BPUPKI?

“Kiyai, kito taksih kedah ngadepi Walandhi, menawi sampun merdhika mangke saget dipun kempalaken malih”. Memoir “hidup itu berjuang” milik Kasman Singodimedjo yang menceritakan bagaimana Kasman berusaha meluluhkan Ki Bagus Hadikusumo yg juga ketuanya dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Ki Bagus pun luluh namun bukan takluk, dengan kecerdikannya ia menawarkan 7 Kata tersebut diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Rangkaian kalimat yang mampu mengikat semua lapisan putra Bangsa namun tanpa mengurangi nilai sakral dari 7 kata di awal. Menurut Kiyai Ichwan Dardiri dalam forum jejak kebangsaan Muhammadiyah di Balai Muhammadiyah Solo mengatakan, justru yang dilakukan Ki Bagus adalah menegasikan spirit dari Sila pertama adalah Tauhid, Ke-Esa-an.

Dinamika sejarah tersebut bukan bentuk disintegrasi oleh kaum Islam, keteguhan Ki Bagus bukanlah bentuk kekolotan melainkan bentuk konsistensi bahwa rumusan itulah yang semula telah disepakati bersama. Juga menunjukkan bagaimana kualitas para Negarawan kita pada waktu itu yang selaras antara ucapan dan perbuatan.

Melunaknya Ki Bagus bukan karena beliau lemah, semata karena ia melihat kepentingan yg lebih besar bahwa Indonesia yang baru merdeka membutuhkan kepercayaan diri untuk tampil bangkit sebagai bangsa yang bebas dari pejajahan.

Maka tak berlebihan bila mengatakan, Pancasila adalah hasil kebesaran hati dari kelompok Islam demi suatu hal yang lebih besar, rumah kita bersama, yaitu Indonesia.

Inilah Ki Bagus, Negarawan, Kiyai Muhammadiyah.
Lahumul Fatihah

Fauzi Ichwani
PD Pemuda Muhammadiyah
Kabupaten Sragen

Ki Bagus Hadikusumo, Bung Karno dan Bung Hatta di Jepang 1943


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *